NAMA :HASMAUDIN
NIM :1405060
TUGAS TI SEJARAH
Kerajaan Linge II
KERAJAAN Linge di Gayo
merupakan Kerajaan tertua dan kerajaan dengan wilayah kekuasaan terluas di
Aceh. Kerajaan Linge di Gayo merupakan salah satu Kerajaan Utama pendukung
berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam. Tanpa dukungan Kerajaan Linge maka sudah
dapat dipastikan Kerajaan Aceh Darussalam tidak akan pernah ada dalam sejarah
Aceh. Keberadaan Kerajaan Linge di Gayo sangat erat kaitannya dengan keberadaan
Kerajaan Aceh Darussalam. Bahkan, Raja pertama Kerajaan Aceh Darussalam adalah
orang Gayo asli dan putra kandung Reje Linge yang bernama Merah Johan atau yang
dikenal dengan gelar Sultan Ali Mughayatsyah.
Kerajaan Linge di Gayo adalah satu-satunya Kerajaan yang
diberikan kuasa oleh Sultan Aceh pada masa itu untuk mencetak mata uang
sendiri. Kuasa itu tidak pernah diberikan kepada Kerajaan kecil lainnya di
semenanjung Aceh. Wilayah kekuasaan Kerajaan Linge di Gayo meliputi semua
wilayah Aceh saat ini yang terbentang mulai dari Aceh Tamiang sampai ke Sabang
dan kemudian dari Aceh Jaya sampai ke Aceh Singkil ditambah dengan semua
wilayah pegunungan yang ada di semenanjung Aceh yang sekarang meliputi Bener
Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara.
Di semula pesisir pantai Aceh baik pantai
timur maupun pantai barat, anak-anak dan keturunan Reje Linge di Gayo
menegaskan kekuasaan mereka dengan menjadi Raja di berbagai wilayah pesisir
Aceh seperti Merah Mersa (Pendiri dan Raja Kerajaan Islam Perlak), Merah Silu
(Pendiri dan Raja Kerajaan Pasai), Merah Dua (Raja Kerajaan Samalanga), Merah
Jernang (Pendiri dan Raja Kerajaan Daya di Aceh Jaya), Merah Bacang (Pendiri
dan Raja Kerajaan Nagan Raya), Sibayak Lingga (Pendiri dan Raja di Kerajaan
Tanah Karo dan sekitarnya). Hal itu menjadikan posisi Kerajaan Linge di Gayo
sebagai sentral kekuatan dan ekonomi bagi semua Kerajaan-Kerajaan yang lebih
kecil yang berada di pesisir pantai Aceh.
Keberadaan Kerajaan Linge di Gayo yang
demikian kokoh dan berwibawa menjadikan Kerajaan Linge di Gayo sumber utama
pelindung dan pendukung berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam. Banyak ahli
sejarah, adat dan bahkan mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang
mengelu-elukan sejarah Kerajaan Aceh Darussalam dengan sultannya yang terkenal
yaitu Sultan Iskandar Muda tapi melupakan sejarah yang sebenarnya yaitu siapa
yang berada dibalik berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam itu?, Apakah Kerajaan
Aceh Darussalam itu berdiri
dengan sendirinya atau ada pihak-pihak yang
mendirikannya?. Jika semua pertanyaan-pertanyaan itu dijawab dengan jujur dan
hati nurani yang jernih maka jawabannya akan bermuara pada sejarah Kerajaan
Linge di Gayo.
Dalam sejarah Kerajaan Aceh Darussalam tidak
pernah didengar adanya peperangan antar kerajaan satu dengan yang lainnya
karena memang semua kerajaan kecil yang ada di pesisir pantai Aceh merupakan
kerajaan-kerajaan yang dipimpin oleh keturunan Reje Linge. Kalaupun adanya
peperangan antar kerajaan yang Islam dan Non-islam. Dan semua kerajaan-kerajaan
kecil yang ada di pesisir pantai Aceh pada saat itu sangat menghormati
keberadaan Kerajaan Linge sebagai Kerajaan terbesar, terkuat dan tertua di
Tanah Aceh. Bahkan bendera Kerajaan Linge merupakan satu-satunya bendera
Kerajaan yang pertama kali berdiri dan berkibar di Aceh mengalahkan semua
bendera kelompok lainnya di Aceh. Bahkan bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan
bendera Kerajaan Aceh Darussalam merupakan 2 bendera yang berdiri dan berkibar
kemudian di Aceh. Jadi, setiap usaha kelompok tertentu yang berupaya untuk
“mengganti” identitas tanah Aceh dengan suatu “identitas” baru diatas tanah
yang sudah sekian ratus tahun memiliki identitasnya sendiri, maka dapat
dipastikan usaha tersebut merupakan usaha yang sia-sia belaka dan akan berujung
pada kegagalan.
Sejarah Aceh sudah membuktikan dan memberikan
gambaran nyata, setiap usaha yang dilakukan oleh orang-perorang atau kelompok
tertentu yang berusaha merubah sejarah dan identitas Aceh ke dalam suatu
sejarah dan identitas baru dengan melupakan atau menafikan sejarah keberadaan
Kerajaan Linge di Gayo maka dapat dipastikan usaha kelompok-kelompok tertentu
itu akan menemui kegagalan. Tidak kah kelompok itu yakin dan percaya bahwa
sudah 2 kali mereka mencoba untuk melakukan upaya “perubahan” di Aceh dengan
“meninggalkan”, “melupakan” dan “menafikan” keberadaan Kerajaan Linge di Gayo
dan semua keturunan-keturunannya maka perjuangan mereka menjadi sia-sia dan
selalu berujung pada kegagalan?, tidak kan mereka mau berpikir dan belajar dari
kenyataan sejarah itu?.
Keberadaan sejarah Kerajaan Linge harus diakui
oleh pemerintah Aceh sekarang ini dengan menempatkan keturunan Kerajaan Linge
di Gayo sebagai pemegang kunci “khasanah” Aceh dan sekaligus memberikan payung
hukum berupa Qanun Provinsi Aceh yang bertujuan mengakui dan melindungi
keberadaan Kerajaan Linge Gayo sebagai Kerajaan Tertua di Aceh dan rakyat Gayo
merupakan penduduk asli Aceh dan kelompok pertama yang mendiami daerah Aceh.
Dengan adanya Qanun provinsi tersebut maka sejarah akan kembali pada tempatnya
semula sehingga Pemerintah Aceh dapat menyelenggarakan tugas-tugas pemerintahan
sehari-hari dengan dipandu oleh “pemegang kunci khasanah” Aceh tersebut.
Sehingga setiap persoalan yang timbul pada masa pemerintahan yang bersangkutan
dapat diselesaikan dengan keterlibatan semua komponen masyarakat termasuk semua
keturunan Kerajaan Linge Gayo sebagai “orang yang dituakan” dan dihormati dalam
struktur sosial politik Aceh.
Kondisi perpolitikan dan kemelut yang terjadi
anta relit politik di Aceh merupakan salah satu alasan mengapa semua keturunan Kerajaan Linge Gayo
untuk “angkat bicara” dan ambil bagian dalam menenangkan situasi tersebut.
Semangat yang harus diusung adalah “Enti sawah koro jamu ngaru itanoh te”,
artinya bahwa semua keturunan Kerajaan Linge Gayo dimanapun berada harus
bersatu-padu menegakkan marwah dan kewibawaan Kerajaan Linge Gayo sebagai
Kerajaan Besar dan Tertua di Aceh.
Usaha untuk mengembalikan kewibawaan bukanlah
hal yang mudah, tepi diharapkan melalui pelaksanaan Konferensi Internasional
Pertama tentang Kerajaan Linge Gayo; Sejarah, Budaya dan Tantangan Pembangunan
Kontemporer dengan mengambil tema utama “Gayo Community Plan 2020; One
Identity, One Expectation, One Destination” diharapkan mampu sedikit memberikan
secercah harapan baru bagi kembalinya kejayaan dan kewibawaan Kerajaan Linge
Gayo. Mari hilangkan egoisme pribadi, perbedaan-perbedaa yang ada diantara
semua keturunan Kerajaan Linge Gayo demi tujuan yang lebih besar lagi yaitu
terwujudnya masyarakat yang baldatun toyyibatun warrabun ghaffur di Tanoh Gayo.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar